Kota di Garda Terdepan: Urgensi Dekarbonisasi di Tengah Krisis Iklim Perkotaan

Coba bayangkan kota di puncak musim panas. Panas menyengat dari aspal yang terperangkap di antara gedung dan bangunan efek rumah kaca lainnya. Seorang pedagang kaki lima di Jakarta mengusap keringat, menatap langit tanpa awan. Di sisi lain dunia, warga Dhaka mengangkat barang-barang mereka melewati banjir yang semakin parah setiap tahun. Sementara itu, di Paris, seorang arsitek kembali merevisi desain bangunan. Bukan hanya karena tampilannya, tapi juga soal pesan moral untuk mengurangi emisi karbon selama bangunan itu berdiri.

Ketiga kejadian yang saya ilustrasikan di atas, disadari atau tidak, punya satu kesamaan, yaitu KOTA. Wilayah perkotaan, tempat tinggal lebih dari separuh penduduk dunia, kini jadi pusat pertempuran melawan krisis iklim, sekaligus penyumbang terbesarnya. Kota-kota kita bertanggung jawab atas 60-75% emisi gas rumah kaca dunia, dan angka ini terus meningkat seiring dengan urbanisasi yang pesat. Namun, di balik data yang mengkhawatirkan ini, ada paradoks yang aneh: kota sebagai sumber masalah, namun juga sebagai “juru kunci” solusinya.

Melalui tulisan ini, saya coba membahas bagaimana krisis iklim perkotaan menjadi tantangan besar di abad ke-21, dan mengapa dekarbonisasi kota bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan mendesak.

Sistem Metabolisme Kota yang Haus Karbon

Kota itu ibarat suatu makhluk raksasa yang terus menerus mengkonsumsi energi, bahan baku, dan sumber daya dalam jumlah besar, lalu membuangnya kembali sebagai emisi karbon. Proses ini sering disebut sebagai metabolisme kota, yaitu bagaimana energi dan materi mengalir dan mendukung semua aktivitas di kota, mulai dari transportasi sampai pendingin gedung (AC), dari industri sampai pengolah sampah. 

Laporan IPCC AR6 Working Group III menyebutkan bahwa kota-kota baru bisa mencapai nol emisi ketika berkomitmen melakukan dekarbonisasi yang menyeluruh dan perubahan sistemik. Ada tiga strategi utama yang bisa dilakukan bersamaan: (i) mengurangi atau mengubah cara penggunaan energi dan bahan baku di kota, mendorong produksi dan konsumsi yang berkelanjutan melalui tata kota yang ringkas dan efisien; (ii) beralih ke tenaga listrik dan sumber energi yang tidak menghasilkan emisi; dan (iii) meningkatkan penyerapan dan penyimpanan karbon di lingkungan perkotaan.

Selain menyumbang emisi, kota juga merasakan dampak perubahan iklim yang diperparah oleh karakteristik fisiknya. Beton, logam, dan kaca di perkotaan menyerap, memancarkan, dan memantulkan panas ke segala sisi; menciptakan fenomena Urban Heat Island (UHI) yang membuat suhu kota lebih tinggi beberapa derajat dibandingkan daerah sekitarnya. Studi terbaru di NPJ Urban Sustainability menunjukkan bahwa intensitas UHI meningkat 0,021°C per tahun secara global, dan peningkatannya lebih cepat di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Ini artinya ada ketidakadilan iklim yang mencolok: mereka yang paling sedikit berkontribusi pada emisi, justru paling menderita akibat daampaknya.

Potret Kerentanan: Siapa yang Paling Kena Dampaknya?

Perubahan iklim itu rasa-rasanya tidak adil. Dampaknya malah sangat terasa pada masyarakat perkotaan yang paling terpinggirkan secara ekonomi dan sosial. Kerentanan ini disebabkan oleh faktor-faktor seperti gender, kelas sosial, ras, asal etnis, usia, disabilitas, dan orientasi seksual. Induk dari faktor itu dipengaruhi oleh budaya, nilai-nilai, dan kebiasaan setempat.

Laporan World Cities Report 2024 dari UN-Habitat mengungkap data yang mengejutkan: lebih dari 2 miliar penduduk kota bisa menghadapi kenaikan suhu setidaknya 0,5°C pada tahun 2040. Laporan ini juga memperingatkan bahwa kota-kota akan semakin panas di masa depan, dan hampir semua penduduknya akan terkena dampaknya jika emisi karbon tetap tinggi. Sebagian besar kota akan menjadi lebih kering atau lebih lembap, dan seberapa parah perubahannya sangat bergantung pada kebijakan yang diambil para pemangku kebijakan saat ini.

Asia dan Afrika: Rentan Tinggi, Perhatian Malah Kurang

Sebuah studi global terbaru terhadap lebih dari 50.000 publikasi tentang perubahan iklim perkotaan menemukan bahwa kota-kota kecil dan berkembang pesat, terutama di Asia dan Afrika, masih kurang diteliti. Kesenjangan ini menyebabkan penilaian iklim sebelumnya menjadi bias dan kurang akurat. Sementara itu, penelitian Sekyere menunjukkan bahwa meskipun Afrika dan Amerika Latin sangat rentan, penelitian dari wilayah ini masih sangat sedikit, sehingga memperkuat ketidakadilan dalam pengetahuan iklim global.

Lebih dari 1,1 miliar orang di seluruh dunia tinggal di permukiman informal tanpa akses ke perumahan, infrastruktur, dan layanan dasar yang layak, sehingga mereka sangat rentan terhadap perubahan iklim. Pada tahun 2050, jumlah orang yang tinggal di permukiman kumuh diperkirakan akan meningkat tiga kali lipat. Ini artinya kita butuh pendekatan adaptasi yang tidak hanya mengandalkan teknologi canggih, tapi juga berlandaskan keadilan sosial dan partisipasi masyarakat.

Sektor bangunan dan gedung saat ini menyumbang sepertiga dari emisi gas rumah kaca global, yaitu sekitar 12,3 GtCO pada tahun 2022. Laporan dari Energy Transitions Commission (2025) menyebutkan tiga prioritas utama untuk menciptakan sektor bangunan tanpa emisi: beralih ke tenaga listrik untuk menggantikan bahan bakar fosil, meningkatkan efisiensi energi secara besar-besaran, dan membangun bangunan yang efisien dan rendah karbon. Desain pasif (seperti sirkulasi udara alami) melalui perencanaan kota yang lebih baik dapat mengurangi kebutuhan energi untuk mendinginkan bangunan sebesar 25-40%. 

Sembilan belas kota besar dunia, termasuk Copenhagen, London, New York, Paris, San Francisco, Tokyo, dan Vancouver, telah berkomitmen untuk memastikan semua bangunan baru beroperasi dengan nol karbon pada tahun 2030, dan semua bangunan lama maupun baru memenuhi standar yang sama pada tahun 2050. Komitmen ini bukan sekadar janji, tapi kota-kota tersebut telah menyepakati rencana, program insentif, dan laporan tahunan tentang progres kemajuan mereka.

Inovasi terbaru juga merambah hingga persil bangunan individual. Kerangka pemodelan berbasis bangunan yang dikembangkan untuk transisi nol karbon di Nanjing, Tiongkok, menunjukkan bahwa perkiraan emisi yang tidak memperhitungkan perbedaan antar gedung telah membatasi ketepatan investasi dekarbonisasi.

Zonasi Rendah Karbon dan Bentuk Kota Kompak

Kota-kota yang berkembang pesat punya kesempatan untuk menghindari emisi yang lebih tinggi di masa depan dengan merencanakan tata kota yang “mendekatkan” lokasi kerja dan hunian untuk menciptakan bentuk kota yang kompak, serta langsung menggunakan teknologi rendah karbon. Kota-kota yang sudah maju bisa menghemat emisi terbesar dengan mengganti, mengubah fungsi, atau merenovasi bangunan yang ada, disertai dengan pembangunan yang terarah, serta beralih ke moda transportasi yang lebih baik dan berbasis tenaga listrik untuk sistem energi kota.

Konsep zonasi rendah karbon, yang menggabungkan penggunaan lahan campuran, jalur hijau, dan batasan emisi per wilayah, menjadi semakin penting dalam perencanaan kota. Kota-kota seperti Amsterdam, Singapura, dan Vancouver telah menerapkan perencanaan terpadu yang menggabungkan infrastruktur hijau, kendaraan listrik, dan ekonomi daur ulang sebagai dasar dekarbonisasi.

Integrasi solusi berbasis alam (Nature based Solution) dalam perencanaan kota telah menjadi salah satu tren terpenting dalam dua dekade terakhir. Taman kota, hutan kota, lahan basah buatan, atap hijau, dan jalur hijau bukan hanya elemen estetis, tapi juga infrastruktur yang berfungsi menyerap air hujan, menurunkan suhu permukaan, dan menyimpan karbon.

Data dari American Society of Landscape Architects menunjukkan bahwa kota-kota yang menerapkan infrastruktur hijau dapat menurunkan suhu permukaan hingga 2,8°C, yang mengurangi konsumsi energi untuk pendinginan sebesar 30%. Pohon dan ruang hijau di perkotaan bahkan mampu menyerap hampir 50 juta ton CO per tahun, menurut data EPA Amerika Serikat. Setiap 1 dolar yang diinvestasikan dalam proyek infrastruktur hijau menghasilkan manfaat ekonomi dan lingkungan hingga 15 dolar.

Gentrifikasi Hijau: Sisi Gelap Penghijauan Kota

Di balik gemerlap penghijauan kota, ada paradoks yang mengkhawatirkan. Studi selama lebih dari enam tahun di 28 kota di Eropa dan Amerika Utara mengungkap bahwa penghijauan kota telah memicu gentrifikasi di 17 kota yang diteliti. Fenomena ini disebut sebagai gentrifikasi hijau, yaitu ketika peningkatan lingkungan berupa taman baru, jalur hijau, dan infrastruktur iklim adaptif justru meningkatkan nilai properti, menaikkan biaya hidup, dan mengusir masyarakat berpenghasilan rendah yang seharusnya menjadi penerima manfaat utama.

World Cities Report 2024 juga menyoroti beberapa intervensi iklim yang secara tidak sengaja memperburuk kondisi masyarakat rentan. Contohnya gentrifikasi hijau yang terasa di Barcelona, di mana revitalisasi kawasan Sant Marti menjadi distrik teknologi memicu lonjakan harga properti dan perpindahan penduduk asli. Medellin, yang dipuji karena transformasinya menjadi kota berkelanjutan dengan ruang hijau yang lebih luas dan transportasi yang lebih bersih, sekaligus juga mengalami dampak sosial yang besar.

Peneliti Isabelle Anguelovski dari ICTA-UAB menegaskan bahwa fenomena itu tidak berarti infrastruktur hijau itu buruk. Justru sebaliknya, manfaatnya bagi kesehatan fisik dan mental sudah terbukti. Masalahnya adalah kurangnya perhatian terhadap kesetaraan dan keadilan dalam perencanaan kota hijau. Salah satu solusinya adalah dengan mengendalikan spekulasi properti, membangun perumahan sosial, membatasi izin sewa jangka pendek, dan melindungi ruang hijau informal yang sudah ada.

Jurang Pembiayaan yang Lebar

Salah satu hambatan terbesar dalam dekarbonisasi perkotaan adalah kurangnya pendanaan. Kota-kota dunia membutuhkan sekitar 4,5-5,4 triliun dolar AS per tahun untuk membangun dan memelihara sistem infrastruktur yang tahan terhadap iklim, namun dana yang tersedia saat ini hanya 831 miliar dolar AS, atau sepersepuluh dari kebutuhan. Hal itu membuat kota-kota, terutama masyarakat yang paling rentan, semakin terpapar risiko tanpa perlindungan yang memadai.

Rekomendasi dari NPJ Urban Sustainability (2025) menyoroti lima area penting untuk menjembatani kesenjangan antara ambisi dan tindakan nyata: perhitungan emisi yang akurat, pembiayaan hijau yang inovatif, tata kelola yang melibatkan banyak pihak, kolaborasi dengan masyarakat, dan perencanaan kota yang terintegrasi. Meskipun banyak kota telah menetapkan target yang ambisius, bahkan 37% lebih tinggi dari target nasional mereka untuk tahun 2030, hanya sebagian kecil yang benar-benar mewujudkan ambisi tersebut menjadi tindakan nyata.

Dekarbonisasi tidak akan berhasil tanpa tata kelola yang kuat dan keterlibatan warga. Rencana Aksi Iklim (Climate Action Plans) harus diperbarui secara berkala dan diselaraskan dengan kerangka iklim internasional. Partisipasi publik dalam pengambilan keputusan, penggunaan teknologi digital untuk memantau risiko iklim, dan pelibatan masyarakat terpinggirkan, termasuk migran dan kelompok minoritas, adalah kunci keberhasilan.

Analisis terhadap enam kota pelopor, yaitu Boston, Leeds, Oslo, San Francisco, Australian Capital Territory, dan Kyoto; menunjukkan bahwa bahkan di kota-kota dengan kebijakan iklim yang baik, masih ada peluang yang terlewat untuk dekarbonisasi yang lebih cepat. Kekurangan yang menonjol termasuk kurangnya perhatian terhadap emisi Lingkup 3, tata kelola yang kurang melibatkan masyarakat, serta minimnya perencanaan ekonomi dan anggaran iklim.

Rencana Aksi 2026: Tahun Penting untuk Aksi Iklim Perkotaan

Tahun 2026 menjadi momen penting untuk aksi iklim perkotaan. United Nations University menyebut tahun ini sebagai tahun penting untuk aksi iklim, kerja sama, dan kota berkelanjutan. Kota-kota semakin mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh pemerintah pusat, namun tetap bergantung pada dukungan mereka untuk mencapai ambisi iklim yang lebih besar dan memperoleh dana yang dibutuhkan.

Jaringan C40, yang kini beranggotakan 96 kota yang mewakili seperduabelas populasi dunia dan seperempat ekonomi global, terus menjadi motor penggerak dekarbonisasi perkotaan. Sekitar 1.100 kota global telah berkomitmen untuk mencapai nol emisi pada tahun 2050. Namun, perhitungan emisi yang akurat di tingkat kota masih menjadi tantangan, dengan perbedaan yang besar antar wilayah, terutama di kota-kota Afrika.

IPCC sedang mempersiapkan Laporan Khusus tentang Perubahan Iklim dan Kota, yang diharapkan terbit pada tahun 2027. Dokumen ini adalah pertanda bahwa realitas perkotaan harus diintegrasikan ke dalam diskusi iklim global.

Epilog: Memilih Masa Depan Kota

Kota-kota di seluruh dunia kini berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ada pilihan untuk melanjutkan seperti biasa (mengalir ikuti arus), yaitu membiarkan urbanisasi tidak terkendali yang memperparah emisi, ketimpangan, dan kerentanan. Di sisi lain, ada jalan menuju perubahan: kota-kota kompak yang hemat energi, didukung oleh transportasi rendah karbon, dikelilingi oleh infrastruktur hijau, dan tata kelola inklusif yang menempatkan keadilan sosial sebagai prioritas utama.

Pilihan ini bukan hanya soal teknis, tapi juga soal politik, ekonomi, dan moral. Setiap zona rendah karbon yang dirancang, setiap bangunan yang direnovasi, setiap taman kota yang dibangun tanpa mengusir penduduknya, adalah langkah konkrit tentang masa depan seperti apa yang ingin kita wariskan.

Seperti yang ditegaskan oleh UN-Habitat, kota bukan hanya bagian dari masalah, tapi juga bagian penting dari solusi; meskipun potensinya belum sepenuhnya terwujud. Pertanyaannya bukan lagi apakah kota harus didekarbonisasi, melainkan seberapa cepat dan seberapa adil proses itu bisa dijalankan. Jawabannya akan menentukan apakah generasi mendatang mewarisi kota yang layak huni, atau sekadar warisan yang “business as usual”.

 -----------------------------

Daftar Bacaan

1. How cities are going carbon neutral - https://www.bbc.com/future/article/20211115-how cities-are-going-carbon-neutral

2. Key recommendations for cities committed to climate neutrality - https://www.nature.com/articles/s42949-025-00268-y

3. 5 Things to Watch in Climate and Environment in 2026 - https://unu.edu/ehs/article/5-things-watch-climate-and-environment-2026

4. Cities and Climate Action - https://unhabitat.org/sites/default/files/2024/11/wcr_2024_-_executive_summary.pdf

5. Chapter 8: Urban systems and other settlements - IPCC - https://www.ipcc.ch/report/ar6/wg3/chapter/chapter-8/

6. 19 Global Cities Commit to Making New Buildings Net Zero ... https://worldgbc.org/article/19-global-cities-commit-to-making-new-buildings-net-zero-carbon-by-2030/

7. Why green “climate gentrification” threatens poor and vulnerable populations | PNAS - https://www.pnas.org/doi/10.1073/pnas.1920490117

Penulis

Villesian
Father of Two Beloved Son|| Bureaucrat|| Urban and Regional Planner (Master Candidate)|| Content Writer|| Content Creator|| Reading Holic|| Obsesive, Visioner, and Melankolis Man||

Posting Komentar