Ringkasan Eksekutif: Kolaborasi Pariwisata Dua Daerah di Bawah Bayang-Bayang Borobudur

 


Kabut pagi menyelimuti Candi Borobudur, sementara mentari pagi menyusup melalui bukit Menoreh. Dari puncak candi Buddha terbesar ini, batas wilayah antara Jawa Tengah dan Yogyakarta terasa tidak penting. Itu hanyalah garis di peta, tidak ada hubungannya dengan kehidupan masyarakat yang bergantung pada candi ini sejak lama. Namun, batas-batas ini telah menciptakan perundingan panjang, kesempatan yang hilang, juga birokrasi yang rumit.

Di kantor Dinas Pariwisata Magelang, Slamet Ahmad Husein, kepala dinasnya; melihat papan strategi wisata di dinding. Wajahnya menunjukkan pengalaman menghadapi lika-liku birokrasi Indonesia, dengan campuran harapan dan ketidakpastian. Papan itu penuh dengan pin warna-warni yang menandai tempat wisata di wilayahnya. Namun, pandangannya selalu tertuju pada area sekitar Borobudur, magnet yang menarik lebih dari lima juta pengunjung setiap tahun, sekaligus memberikan tantangan sekaligus peluang.

Saya sudah lebih dari sepuluh tahun berkecimpung di dunia pariwisata”, ujar Husein sambil membetulkan kacamatanya. “Satu pertanyaan selalu muncul: bagaimana kami di Magelang, yang punya daya tarik wisata kelas dunia seperti Borobudur, bisa berbagi manfaat dengan daerah tetangga, terutama yang berbeda provinsi?

Lima puluh kilometer ke selatan, melewati perbukitan yang membatasi Jawa Tengah dan Yogyakarta, pertanyaan serupa muncul di kantor Dinas Pariwisata Kulon Progo. Pemandangannya berbeda. Bukan candi kuno, melainkan pantai-pantai luas di Samudra Hindia dan sawah terasering yang menjulang. Tapi, tantangannya tetap sama.

Saryanto, Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Kabupaten Kulon Progo, sering memikirkan perbedaan jumlah wisatawan yang mencolok. Magelang dikunjungi lebih dari lima juta wisatawan setiap tahun berkat Borobudur. Sementara Kulon Progo menerima hanya kurang dari 900.000 wisatawan, padahal punya pantai indah, desa tradisional, dan bandara internasional yang baru dibangun sebagai pintu gerbang ke Borobudur.

Kadang saya bertanya-tanya, apakah kami yang salah dalam proses memasarkan diri?” kata Saryanto saat diwawancarai di kantornya, yang menghadap ke arah pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta. “Kami punya banyak hal menarik, dari pantai hingga perkebunan kopi di dataran tinggi. Tapi, kami masih dianggap sebagai 'tempat lewat' saja bagi wisatawan yang mau ke Borobudur”.



Ini adalah realita tentang dua kabupaten di Indonesia yang dipisahkan oleh batas wilayah, namun terikat oleh geografi, sejarah, dan tantangan yang sama. Selama lebih dari sepuluh tahun, mereka berjuang mencari cara untuk bekerja sama agar sama-sama untung dalam mengembangkan pariwisata regional. Ini adalah percobaan kerja sama yang menunjukkan persimpangan antara kebanggaan daerah, lambannya birokrasi, dan kesadaran bahwa di dunia yang saling terhubung, kesuksesan pariwisata butuh pemikiran yang lebih luas.

Awal yang Kurang Mulus

Jika ditarik sejarahnya, kerja sama antara Magelang dan Kulon Progo dimulai pada tahun 2010, dengan harapan besar. Dua bupati, Singgih Sanyoto dari Magelang dan Toyo Santoso Dipo dari Kulon Progo, menandatangani nota kesepahaman untuk bekerja sama di 24 bidang pemerintahan, termasuk pariwisata. Acara penandatanganan di kantor pemerintahan Kulon Progo dihadiri banyak pejabat dari kedua kabupaten, yang berharap adanya peluang baru untuk pembangunan daerah.

Rita Diah Ajeng Esty, yang sekarang menjabat sebagai Sub-Koordinator Pengelolaan Administrasi Daerah di Sekretariat Pemerintah Daerah Kulon Progo, adalah seorang pegawai negeri sipil muda saat itu. Dia ingat betapa optimisnya semua orang di hadapannya. Semua orang bicara tentang bagaimana kerja sama itu bisa mengubah segalanya. Bagaimana mereka akhirnya bisa kerja sama, bukan malah bersaing. Bidang kerja samanya luas sekali, dari pendidikan sampai penanggulangan bencana.

Namun saat itu, dari 24 bidang yang disepakati, hanya bidang kesehatan yang benar-benar ditindaklanjuti dengan perjanjian yang jelas. Alasannya adalah masalah mendesak: wabah malaria sedang melanda wilayah perbatasan kedua kabupaten.


Kesehatan saat itu adalah prioritas utama”, jelas Yogi Andriani, Analis Kebijakan di Divisi Pemerintahan Magelang. “Penyakit tidak mengenal batas wilayah. Malaria bisa hilang di satu daerah, tapi bisa menyebar ke daerah tetangga. Kami harus bertindak cepat”.

Krisis malaria menunjukkan potensi dan keterbatasan kerja sama antar wilayah. Ketika nyawa terancam, hambatan birokrasi langsung hilang. Tim kesehatan gabungan dibentuk, data dibagikan dengan lancar, dan sumber daya dikumpulkan tanpa masalah wilayah. Dalam dua tahun, wabah itu akhirnya berhasil diatasi.

Tapi, bagaimana dengan pariwisata? Sektor ini masih dianggap urusan sekunder, sesuatu yang bisa ditangani masing-masing daerah sendiri.

Keengganan untuk segera bekerja sama dalam sektor pariwisata itu bukannya tanpa alasan. Periode awal tahun 2010-an, memang kedua kabupaten masih fokus membangun pondasi pariwisata internal mereka masing-masing. Magelang sibuk mengelola banyaknya pengunjung Borobudur sambil berusaha mencegah pariwisata yang berlebihan membebani infrastruktur lokal. Sementara itu, Kulon Progo baru saja mulai mengembangkan pariwisata pesisir dan pariwisata desa berbasis masyarakat, dengan harapan bisa menciptakan alternatif ekonomi selain pertanian konvensional.

Dulu, kami pikir kerja sama pariwisata itu seperti permainan yang hasilnya nol”, ujar Sudiatmini, mantan staf Divisi Pemerintahan Kulon Progo yang menangani perjanjian kerja sama awal. “Kalau turis ke Magelang, mereka tidak akan datang ke kami. Sebaliknya, jika kami promosikan pantai-pantai kami, mungkin orang-orang tidak akan mengunjungi Borobudur. Kami tidak melihat bagaimana kerja sama bisa menguntungkan semua pihak”.


Saryanto dari Dinas Pariwisata Kulon Progo juga mengatakan, “dulu kami berpikir kalau wisatawan pergi ke Magelang, kami rugi. Sekarang kami mengerti, kalau wisatawan punya pengalaman yang luar biasa di wilayah kami—baik di Magelang maupun Kulon Progo—mereka akan kembali dan mengajak teman. Pariwisata itu bukan ‘zero-sum game’. Kalau kita kerja sama, semua untung”.


Pemicu Perubahan: Borobudur Mendunia

Perubahan terjadi pada tahun 2017, ketika pemerintah pusat menetapkan Borobudur sebagai salah satu dari sepuluh Destinasi Pariwisata Super Prioritas, sejalan dengan program 10 Bali Baru di Indonesia. Tujuannya, menciptakan magnet pariwisata seperti Bali di mata para wisatawan. Perubahan kebijakan ini mengubah pembangunan pariwisata dari pendekatan masing-masing sektor menjadi strategi regional yang terpadu. Hal ini mengubah cara pemerintah daerah memandang peran mereka dalam ekosistem pariwisata nasional.

Penetapan Destinasi Pariwisata Super Prioritas membawa dampak besar yang tidak diantisipasi oleh Magelang maupun Kulon Progo. Tiba-tiba, seluruh wilayah di sekitarnya, termasuk Kulon Progo, otomatis diklasifikasikan sebagai zona penyangga yang harus ikut mengembangkan infrastruktur dan layanan pariwisata kelas dunia. Pemerintah pusat membentuk Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB) untuk mengoordinasikan berbagai kementerian dan pemerintah daerah dalam satu visi pembangunan yang terpadu.

Wisnu Yudananto, Kepala Divisi Aksesibilitas dan Infrastruktur BPOB, menjelaskan perubahan tersebut. “Sebelum 2017, setiap daerah jalan sendiri-sendiri. Magelang fokus ke Borobudur, Kulon Progo mengembangkan pantainya, dan Purworejo mengembangkan situs budayanya. Tapi, tiba-tiba kami dapat perintah dari Jakarta untuk berpikir secara regional. Kementerian menekankan bahwa keberhasilan Borobudur sebagai Destinasi Super Prioritas tidak hanya diukur dari jumlah pengunjung candi, tapi juga dari dampak ekonomi di seluruh wilayah”.


Ika Yonita, Subkoordinator Pengembangan Wilayah di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kulon Progo, menyaksikan langsung perubahan paradigma tersebut. “Sejak penetapan Destinasi Pariwisata Super Prioritas, seluruh pendekatan perencanaan kami berubah. Yang tadinya hanya fokus ke pertanian, sekarang menjadikan pariwisata sebagai pilar utama, dengan tetap mempertimbangkan mitigasi bencana dan lingkungan yang berkelanjutan”.

Perubahan ini bukan sekadar retorika birokrasi. Penunjukan ini menghasilkan investasi yang nyata: perbaikan jalan yang menghubungkan lokasi wisata antar kabupaten, kampanye pemasaran bersama, dan yang paling penting, pembangunan Bandara Internasional Yogyakarta di Kulon Progo. Proyek ini dirancang khusus untuk melayani wisatawan yang menuju Borobudur.

Proyek bandara, yang dimulai pada tahun 2017 dan mulai beroperasi pada tahun 2020, mengubah posisi strategis Kulon Progo dalam sekejap. Wisatawan tidak perlu lagi terbang ke Yogyakarta dan naik bus selama dua jam ke Borobudur. Sekarang, mereka bisa mendarat di Kulon Progo dan mencapai Borobudur dalam 45 menit, bahkan mungkin mampir ke pantai, desa, atau situs budaya di sepanjang perjalanannya dari Kulon Progo.

Bandara mengubah segalanya, kata Jatmiko, Direktur Jay Trans Tour & Travel, sebuah operator tur lokal di Kulon Progo. “Tiba-tiba, kami bukan hanya tempat transit. Kami menjadi bagian dari tujuan wisata. Operator tur mulai bertanya tentang paket wisata beberapa hari yang mencakup Borobudur dan pantai-pantai kami. Untuk pertama kalinya, kami punya daya tawar yang nyata dalam negosiasi pariwisata”.

Revolusi Digital: Kota Cerdas sebagai Pendorong Kerja Sama

Sejalan dengan perubahan di bidang pariwisata, kedua kabupaten juga mengalami transformasi digital melalui program kota pintar yang diinisiasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika sejak tahun 2018. Magelang dan Kulon Progo terpilih sebagai bagian dari pilot project 100 Kota Menuju Smart City. Hal ini membawa perubahan signifikan pada tata kelola dan layanan publik yang secara tak terduga mempermudah kerja sama pariwisata.

Waktunya sangat tepat. Meski kerja sama antar wilayah sudah dibahas sejak 2010, kota pintar menyediakan alat dan cara baru untuk berkolaborasi yang melampaui batas wilayah.

Di Magelang, implementasi kota pintar meningkatkan skor evaluasi digitalisasi daerah dari 2,77 (2019) menjadi 3,00 (2021). Sementara itu, Kulon Progo mencatat kemajuan dari 3,07 (2019) menjadi 3,38 (2021). Lebih dari sekadar angka, transformasi digital mengubah cara kedua wilayah menyelesaikan masalah dan berbagi sumber daya.

Musokhib, Kepala Bidang Informatika Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Magelang, menjelaskan dampaknya. “Inisiasi Smart City memberi kami cara baru untuk berpikir tentang kerja sama. Kami bisa berbagi data secara langsung, mengoordinasikan kampanye pemasaran melalui media sosial terintegrasi, dan melacak pergerakan wisatawan. Teknologi membuat kolaborasi bukan hanya mungkin, tapi juga efisien”.


Program smart city memperkenalkan konsep seperti merek pintar dan tata kelola pintar yang sangat relevan dengan kerja sama pariwisata. Platform digital memungkinkan kedua kabupaten melakukan promosi pariwisata bersama melalui situs web, media sosial, dan sistem pemesanan terintegrasi. Dengan begitu, wisatawan bisa merencanakan perjalanan ke berbagai tempat dengan mudah dan terintegrasi.

Didik Wijanarto, Kepala Divisi Aplikasi Informasi di Dinas Komunikasi dan Informatika Kulon Progo, mengatakan, “anggaran daerah untuk kota pintar tidak lebih dari 10% dari total anggaran, sementara dana dari luar belum didapatkan. Namun, dampaknya sangat besar. Kami mulai memandang diri kami sebagai bagian dari ekosistem digital, bukan hanya sebagai wilayah yang terisolasi”.

Jabat Tangan yang Sudah Lama Ditunggu: Meresmikan Satu Dekade MoU

Barulah pada tahun 2019, hampir satu dekade setelah nota kesepahaman awal, Dinas Pariwisata kedua kabupaten akhirnya menandatangani Perjanjian Kerja Sama resmi. Penundaan ini menunjukkan betapa rumitnya birokrasi, prioritas yang berbeda-beda, dan apa yang secara diplomatis disebut oleh para pejabat sebagai tingkat komitmen yang berbeda antara kedua wilayah.

Perjanjian bernomor 019.625/192/2019 tentang Pengembangan Pariwisata tersebut mencakup perencanaan pariwisata terpadu, pengembangan destinasi, pemasaran, pengembangan industri, dan kerja sama kelembagaan. Namun, isi dokumen itu menunjukkan betapa hati-hatinya negosiasi setiap klausul, mencerminkan ketegangan dan ketidakpercayaan selama bertahun-tahun.

Pasal 4 perjanjian tersebut mencantumkan kewajiban kedua belah pihak: menyediakan data dan informasi untuk perencanaan pariwisata, mempermudah kegiatan kerja sama, dan mendukung implementasi sesuai kebutuhan. Isinya sengaja dibuat samar, menunjukkan kesulitan kedua belah pihak untuk berkomitmen pada tindakan-tindakan yang spesifik dan terukur.

Masalahnya, kedua kabupaten ingin bekerja sama, tapi juga ingin tetap memegang kendali”, jelas seorang pejabat pemerintah yang meminta untuk tidak disebutkan namanya. Magelang khawatir akan berbagi nilai merek Borobudur dengan daerah lain. Kulon Progo khawatir dianggap sebagai mitra yang lebih rendah. Setiap klausul dalam perjanjian itu dibahas dengan sangat panjang.

Perbedaan antar wilayah menciptakan ketegangan tersendiri. Jumlah wisatawan Magelang yang mencapai 5,06 juta pada tahun 2018, dibandingkan dengan 877.561 wisatawan Kulon Progo, menunjukkan ketidakseimbangan posisi yang membuat negosiasi menjadi rumit. Pejabat Magelang kadang mempertanyakan mengapa mereka harus berbagi daya tarik utama mereka. Sementara perwakilan Kulon Progo merasa dirugikan dalam diskusi tentang pemasaran bersama dan pembangunan infrastruktur.

Situasi ini diperumit oleh perbedaan budaya birokrasi. Magelang, sebagai bagian dari Provinsi Jawa Tengah, beroperasi dengan aturan dan prosedur yang berbeda dibandingkan Kulon Progo, yang merupakan bagian dari Daerah Istimewa Yogyakarta dengan status otonomi dan tradisi budaya yang unik.

Ujian Pandemi: Krisis sebagai Pendorong

Ketika COVID-19 melanda di awal tahun 2020, industri pariwisata di kedua kabupaten terpuruk. Kunjungan ke Candi Borobudur anjlok hingga 77,3%, dari 3,7 juta pada tahun 2019 menjadi hanya 965.000 pada tahun 2020. Destinasi wisata di Kulon Progo mengalami penurunan yang sama karena perjalanan internasional dihentikan dan pergerakan di dalam negeri dibatasi dengan ketat. Namun, anehnya, krisis itu justru memperkuat kesadaran akan pentingnya kerja sama yang gagal dicapai melalui pertemuan birokrasi selama bertahun-tahun.

Pandemi ini seperti peringatan”, ujar seorang pegawai Dinas Pariwisata Magelang dalam sebuah wawancara di akhir tahun 2022. “Kami tiba-tiba sadar bahwa bergantung pada satu destinasi saja, bahkan destinasi sekuat Borobudur, sangat berisiko. Semua telur kami ada dalam satu keranjang. Ketika pariwisata berhenti, kami tidak punya apa-apa untuk diandalkan. Kerja sama dengan daerah tetangga bukan hanya hal yang baik, tapi juga menjadi penting untuk bertahan hidup”.

Krisis ini mempercepat penggunaan teknologi digital di kedua wilayah. Tur virtual menjadi biasa, pemasaran media sosial semakin gencar, dan sistem pemesanan daring yang telah direncanakan selama bertahun-tahun dapat diimplementasikan hanya dalam hitungan bulan. Yang terpenting, tantangan yang dari “musuh bersama” ini menciptakan alasan baru untuk bekerja sama.

Selama pandemi, kedua kabupaten mulai bersama-sama mengembangkan paket wisata virtual yang menampilkan destinasi lintas batas wilayah. Tur virtual bisa dimulai di Candi Borobudur, kemudian beralih ke pantai-pantai Kulon Progo, dan diakhiri dengan melihat kerajinan tradisional di desa-desa perbatasan. Percobaan digital ini meletakkan dasar bagi paket wisata fisik yang akan muncul seiring dengan dicabutnya pembatasan perjalanan.

Inovasi Budaya: Gelang Tari Projo

Salah satu terobosan paling simbolik terjadi pada bulan Agustus 2022 dengan penciptaan Tari Gelang Projo, pertunjukan budaya kerja sama yang melibatkan tiga kabupaten: Magelang (dengan tari Soreng), Kulon Progo (dengan Lengger Tapeng), dan Purworejo (dengan Dolalak). Tarian yang diresmikan oleh Badan Pelaksana Otorita Borobudur ini mewakili sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya, yaitu penciptaan identitas budaya bersama yang sengaja dibuat dan tentu melampaui batas-batas wilayah.

Nama Gelang Projo menggabungkan unsur-unsur dari ketiga nama kabupaten (Magelang, Kulon Progo, dan Purworejo). Sementara simbol “gelang” melambangkan keterkaitan ketiga daerah di sekitar Borobudur.

Proses kreatifnya sendiri mencerminkan tantangan dan kemungkinan kerja sama regional. Para ahli tari tradisional dari setiap daerah harus belajar bekerja sama, menggabungkan gaya gerakan dan tradisi musik yang berbeda yang telah berkembang terpisah selama berabad-abad. Latihan awal berlangsung menegangkan, dengan masing-masing kelompok melindungi warisan seni mereka.

Awalnya, semua orang ingin gaya tari mereka yang paling menonjol”, kenang salah satu peserta proyek. “Penari Magelang menganggap gerakan mereka lebih halus, penari Kulon Progo menekankan keterikatan mereka dengan tradisi pesisir, dan seniman Purworejo bersikeras bahwa musik mereka lebih autentik. Namun, lama-kelamaan, kami belajar bahwa kolaborasi berarti menciptakan sesuatu yang benar-benar baru, bukan hanya menggabungkan unsur-unsur yang sudah ada”.

Pertunjukan yang dihasilkan, yang sekarang rutin dipentaskan di berbagai acara pariwisata di seluruh wilayah, berfungsi sebagai hiburan sekaligus simbol. Saat penonton menyaksikan Gelang Projo, mereka menyaksikan metafora untuk kerja sama regional, berbagai tradisi bersatu untuk menciptakan sesuatu yang lebih indah dan kompleks daripada yang dapat dicapai oleh satu elemen saja.

Melalui kerja sama artistik ini, kami mulai menghilangkan segala perbedaan, sehingga meredam ego daerah dalam membangun pariwisata bersama,” ujar salah satu pejabat pemerintah yang terlibat dalam inisiatif tersebut.

Perspektif Bisnis: Operator Tur sebagai Diplomat

Sementara pejabat pemerintah berunding, operator pariwisata dari sektor swasta diam-diam menjadi salah satu katalisator kerja sama lintas batas yang paling efektif. Perusahaan tur, agen perjalanan, dan bisnis perhotelan bekerja berdasarkan logika pasar, bukan batasan wilayah, menciptakan integrasi praktis yang sering mendahului kebijakan resmi.

Jay Trans Tour & Travel milik Jatmiko misalnya, yang berbasis di Kulon Progo, adalah contoh nyata kerja sama di tingkat akar rumput ini. Perusahaannya mulai menawarkan paket wisata yang menggabungkan wisata Borobudur dengan pantai Kulon Progo pada tahun 2018, tiga tahun sebelum perjanjian kerja sama pariwisata resmi ditandatangani.


Pelanggan saya tidak peduli dengan batas wilayah kabupaten”, jelas Jatmiko. “Mereka menginginkan pengalaman. Kalau saya bisa menunjukkan matahari terbit di Borobudur dan matahari terbenam di Pantai Parangtritis di hari yang sama, dengan makanan lokal dan pertunjukan budaya di antaranya, mereka pasti akan memesan. Perjanjian kerja sama ini hanya meresmikan apa yang sudah kami lakukan sejak dulu”.

Kecenderungan alami industri pariwisata untuk berintegrasi menciptakan tekanan bagi pemerintah untuk bekerja sama dari bawah. Operator hotel melaporkan peningkatan pemesanan ketika mereka bisa menawarkan paket yang mencakup beberapa tempat wisata. Pemilik restoran menemukan bahwa mempromosikan jalur kuliner daerah menarik lebih banyak pengunjung. Bahkan, produsen kerajinan tradisional mengakui bahwa kolaborasi dengan pengrajin dari daerah tetangga menghasilkan produk yang lebih menarik.

Integrasi yang didorong oleh bisnis ini juga mengungkap kekurangan dalam kebijakan pemerintah. Operator tur sering mengeluhkan aturan yang tidak sama di seluruh wilayah, persyaratan izin yang berbeda, standar keselamatan yang berbeda, dan harga yang berbeda yang mempersulit operasi lintas batas.

Kadang kami bercanda bahwa menjalankan tur lintas kabupaten itu seperti perjalanan internasional”, kata seorang operator yang meminta untuk tidak disebutkan namanya. “Aturan beda, prosedur beda, semua kontaknya beda. Perjanjian kerja sama memang membantu, tapi implementasinya masih banyak kendala”.

Tantangan Lingkungan dan Pariwisata Berkelanjutan

Pembahasan kerja sama ini semakin mendesak karena kedua kabupaten menghadapi tantangan lingkungan yang melampaui batas wilayah. Meningkatnya pariwisata memunculkan kekhawatiran tentang pengelolaan limbah, perlindungan sumber daya air, dan pelestarian lanskap budaya yang membutuhkan tindakan yang terkoordinasi.

Perbukitan Menoreh, yang menjadi batas alami antara Magelang dan Kulon Progo, menjadi titik fokus bagi masalah ini. Wilayah sekitar bukit mencakup daerah aliran sungai yang memasok air bagi kedua kabupaten, pertanian terasering yang dikenal karena nilai budayanya, dan hutan yang menyediakan jasa lingkungan yang penting. Pengembangan pariwisata di wilayah perbatasan ini membutuhkan koordinasi yang cermat untuk mencegah kerusakan lingkungan.

Ika Yonita dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kulon Progo menekankan pentingnya lingkungan. Katanya, sejak Kulon Progo ditetapkan sebagai Destinasi Pariwisata Super Prioritas, cara pandang mereka berubah. Sekarang, pengembangan pariwisata harus mempertimbangkan mitigasi bencana. “Kita tidak bisa hanya fokus mengembangkan pariwisata tanpa peduli lingkungan. Apalagi ini wilayah perbatasan, dampaknya akan dirasakan oleh dua kabupaten”, ujarnya.


Pembangunan Jalan Menoreh, yang menghubungkan Bandara Internasional Yogyakarta dengan kawasan Borobudur, menambah tantangan. Jalan ini memang mempersingkat waktu tempuh dan memudahkan akses ke tempat wisata. Tapi, ada juga kekhawatiran soal erosi tanah, kerusakan habitat, dan dampaknya ke petani tradisional.

Kerja sama di bidang lingkungan ternyata lebih mudah dilakukan. Soalnya, masalah yang dihadapi jelas sama-sama dirasakan. Misalnya, polusi air di Kulon Progo bagian hulu berdampak ke masyarakat di Magelang bagian hilir. Atau, penebangan hutan di Magelang mempengaruhi pengaturan aliran sungai di Kulon Progo. Dampak yang nyata ini mendorong kedua daerah untuk duduk bersama membentuk semacam pokja lingkungan.

Revolusi Pariwisata Digital

Program road to smart city di kedua kabupaten mendorong inovasi dalam pemasaran dan pengelolaan pariwisata digital. Ini juga mempermudah kerja sama lintas batas. Dulu, promosi pariwisata biasanya pakai materi cetak dan pameran yang fokus ke satu destinasi saja. Sekarang, platform digital memungkinkan promosi yang lebih canggih, misalnya dengan menampilkan paket wisata yang menggabungkan beberapa destinasi melalui Website resmi, Instagram dan Facebook.

Kedua kabupaten mengembangkan strategi media sosial yang terpadu, saling berbagi aset digital, dan berkoordinasi dalam kampanye pemasaran online. Contohnya, slogan “Visit Borobudur” yang diluncurkan tahun 2021. Ini adalah upaya pertama untuk memasarkan kawasan tersebut sebagai satu kesatuan, bukan sebagai wilayah administratif yang terpisah.

Digitalisasi juga memungkinkan pembagian data dan perencanaan bersama yang lebih baik. Dengan sistem pelacakan pengunjung real-time, kedua kabupaten bisa memahami pergerakan wisatawan, menemukan masalah, dan mengoordinasikan pembangunan infrastruktur dengan lebih baik.

Tapi, kerja sama digital juga memunculkan masalah baru. Perbedaan platform teknologi, kebijakan privasi data, dan tingkat pemahaman teknologi di antara pegawai pemerintah menjadi penghalang. Evaluasi program smart city menunjukkan peningkatan di kedua kabupaten, tapi juga ada masalah interoperabilitas yang menghambat efektivitas kerja sama.

Rekomendasi Masa Depan: Menuju Badan Regional

Belajar dari keberhasilan kerja sama regional di daerah lain, seperti SUBOSUKAWONOSRATEN di Jawa Tengah yang sudah berjalan sejak 2001, penelitian saya merekomendasikan peningkatan kerja sama dari sekadar “Perjanjian Bersama” menjadi “Otoritas yang Dibentuk Bersama”. Otoritas ini nantinya punya sekretariat bersama dan sumber daya khusus.

Nantinya, tiga kabupaten—Magelang, Kulon Progo, dan Purworejo—akan tergabung dalam sistem kelembagaan bernama BKAD (Badan Kerjasama Antar Daerah) Gelang Projo. Badan ini punya wewenang lebih tinggi dan struktur pendanaan yang jelas. Contoh ini adalah perkembangan besar dari model kerja sama sukarela menjadi tata kelola daerah yang lebih terstruktur.

Konsep kesiapan kawasan cerdas mencakup tiga parameter: potensi alam, infrastruktur, dan mediasi (tradisi, inovasi, dan interaksi). Konsep ini bisa jadi kerangka kerja untuk mengembangkan kerja sama pariwisata berbasis teknologi. Masing-masing kabupaten punya keunggulan: Magelang punya Borobudur sebagai aset alam dan budaya, Kulon Progo punya infrastruktur baru seperti bandara, dan keduanya punya inisiatif budaya bersama seperti Gelang Projo Dance.

Pelajaran untuk Tata Kelola Terdesentralisasi di Indonesia

Kerja sama Magelang-Kulon Progo memberikan pelajaran berharga tentang tantangan dan peluang kerja sama antar daerah di Indonesia yang menganut sistem desentralisasi. Sejak otonomi daerah diberlakukan tahun 2001, pemerintah daerah punya wewenang lebih besar dalam perencanaan pembangunan dan alokasi sumber daya. Desentralisasi ini memang mendekatkan pemerintah ke masyarakat, tapi juga menciptakan fragmentasi administratif yang kadang menghambat koordinasi antar daerah.

Pengalaman kerja sama pariwisata ini menunjukkan manfaat dan keterbatasan sistem tata kelola di Indonesia saat ini. Otonomi daerah memungkinkan kedua kabupaten mengembangkan identitas pariwisata yang unik dan merespon kebutuhan masyarakatnya. Magelang bisa fokus pada pelestarian warisan Borobudur dan mengembangkan pariwisata berbasis desa. Kulon Progo bisa mengembangkan pembangunan yang berpusat pada bandara sambil mempertahankan pertanian dan konservasi pesisir.

Tapi, otonomi daerah juga menciptakan hambatan. Perbedaan peraturan provinsi, siklus anggaran, prioritas politik, dan ego daerah mempersulit upaya kerja sama.

Adapun faktor-faktor yang membuat kerja sama ini bisa berhasil adalah komitmen politik, kerangka kelembagaan yang jelas, pendanaan yang berkelanjutan, pemanfaatan teknologi, dan kepekaan budaya. Pengalaman ini menunjukkan bahwa kerja sama regional yang efektif membutuhkan perubahan kelembagaan formal dan pembangunan hubungan informal yang butuh waktu tidak sebentar.

Di era konektivitas global dan tantangan kompleks yang melampaui batas, mulai dari perubahan iklim, pandemi, hingga transformasi digital, kemampuan berkolaborasi lintas batas sangat penting. Kerja sama yang perlahan antara Magelang dan Kulon Progo, dengan segala hambatannya, menunjukkan bahwa kolaborasi semacam itu mungkin dilakukan. Tapi, butuh kesabaran, kegigihan, dan kemauan untuk mengatasi ketidakpercayaan yang sudah lama ada.

Penulis

Villesian
Father of Two Beloved Son|| Bureaucrat|| Urban and Regional Planner (Master Candidate)|| Content Writer|| Content Creator|| Reading Holic|| Obsesive, Visioner, and Melankolis Man||

Posting Komentar