Di Mataram, pagi tidak selalu dimulai dari sawah. Bagi banyak keluarga yang tinggal di gang-gang padat, pagi berangkat dari pasar lingkungan: membeli cabai, kangkung, tomat, daun bawang, atau bumbu dapur dalam jumlah kecil untuk kebutuhan satu hari. Pola ini terlihat sederhana, tetapi memperlihatkan satu kenyataan penting, bahwa betapa rumah tangga perkotaan sangat bergantung pada pasokan pangan yang datang dari luar lingkungan rumah. Ketika harga cabai bergerak naik, hujan menghambat distribusi, atau kemarau menekan produksi hortikultura, dapur ibu-ibu menjadi ruang utama yang merasakan dampaknya.
Nusa Tenggara Barat dikenal sebagai salah satu provinsi dengan kekuatan pertanian yang luar biasa. Bisa dibilang salah satu lumbung padinya Indonesia. Padi, jagung, hortikultura, peternakan, dan perikanan menjadi fondasi pangan masyarakat di dua pulau yang berada di dalamnya (Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa). Namun, kekuatan produksi di tingkat provinsi tidak serta-merta menjamin setiap keluarga kota memiliki akses pangan segar yang mudah dan stabil setiap waktu. Ketahanan pangan memiliki empat unsur yang saling berkaitan: ketersediaan, akses, pemanfaatan, dan stabilitas pangan. Artinya, pangan harus tersedia, dapat dibeli atau diperoleh, aman serta bergizi ketika dikonsumsi, dan tidak mudah terganggu oleh perubahan musim, harga, maupun distribusi.
Di titik inilah konsep urban farming memperoleh makna yang lebih masuk akal. Urban farming bukan gagasan untuk menggantikan sawah di Lombok Tengah, ladang jagung di Bima, atau kebun hortikultura di Sembalun. Perannya berbeda. Urban farming bekerja pada skala rumah tangga dan lingkungan: memperpendek jarak antara warga dengan sebagian pangan segarnya. Dalam bentuk yang paling sederhana, konsep ini dapat berupa polybag berisi cabai di depan rumah, rak sayur di sisi kanan-kiri gang, tanaman kangkung dalam wadah bekas, atau kebun bersama yang dikelola warga dalam lahan kecil yang sebelumnya tidak produktif (lahan tidur).
Konteks NTB membuat pendekatan ini semakin relevan. Sebagian wilayah menghadapi musim kering yang panjang dan pola hujan yang semakin sulit diprediksi. Perubahan curah hujan, kenaikan suhu, serta risiko kekeringan berpengaruh terhadap waktu tanam, ketersediaan air, dan produktivitas pertanian. Pemerintah Provinsi NTB juga mendorong pendekatan climate-smart agriculture atau pertanian cerdas iklim, yang menekankan produktivitas, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan iklim, dan keberlanjutan lingkungan melalui penggunaan air yang lebih efisien, pemupukan berimbang, serta pemanfaatan varietas yang adaptif.
Untuk skala gang perkotaan, prinsip pertanian cerdas iklim dapat diterjemahkan dengan cara yang jauh lebih sederhana. Warga tidak harus membangun instalasi mahal. Yang diperlukan adalah memilih tanaman sesuai kondisi cahaya, menggunakan wadah tanam yang hemat tempat, mengatur penggunaan air, dan menghindari pemborosan pupuk. Di halaman sempit yang terkena matahari cukup, cabai rawit, tomat ceri, terong, kemangi, dan daun bawang dapat menjadi pilihan favorit. Sementara itu, kangkung, bayam, pakcoy, sawi, dan selada cocok untuk sistem tanam bertingkat atau wadah sederhana karena masa panennya relatif cepat. Kesemuanya itu bisa menyulap halaman kita menjadi "toko sayur-mayur serba ada".
Pilihan tanaman sebaiknya tidak semata mengikuti tren. Dalam lingkungan rumah tangga, komoditas yang paling relevan yaitu yang benar-benar digunakan sehari-hari. Cabai rawit, misalnya, memiliki nilai strategis di dapur karena konsumsi sambal dan masakan berbumbu cukup kuat dalam kebiasaan pangan masyarakat. Ketika harga cabai meningkat, beberapa pot cabai memang tidak akan memenuhi seluruh kebutuhan keluarga, tetapi dapat menjadi cadangan yang berarti untuk konsumsi harian. Demikian pula dengan kangkung, bayam, kemangi, daun bawang, dan tomat. Tanaman tersebut membantu keluarga di perkotaan memperoleh bahan segar tanpa harus selalu membeli dalam jumlah kecil di warung atau pasar raya.
Teknik Pemeliharaan yang Efektif Perlu Diperhatikan
Keterbatasan air perlu menjadi pertimbangan utama, khususnya pada musim kemarau. Kesalahan yang sering terjadi dalam urban farming adalah menyiram tanaman terlalu banyak karena menganggap air selalu identik dengan pertumbuhan. Padahal, akar tanaman juga membutuhkan ruang udara dalam media tanam. Media yang terlalu basah dapat membuat akar kekurangan oksigen dan lebih mudah membusuk. Karena itu, wadah tanam perlu memiliki lubang drainase, sedangkan penyiraman dilakukan secukupnya sesuai kelembapan media. Pada tanaman dalam pot atau polybag, penyiraman pagi atau sore hari lebih efisien karena penguapan tidak setinggi saat matahari sedang terik.
Teknik hemat air dapat diterapkan tanpa mengurangi produktivitas tanaman. Potongan daun kering, sekam, atau bahan organik lain di permukaan media tanam membantu menjaga kelembapan dan mengurangi penguapan. Air bekas mencuci beras juga dapat dimanfaatkan secara terbatas untuk tanaman hias atau tanaman nonkonsumsi, tetapi untuk sayuran yang akan dikonsumsi, penggunaan air bersih tetap merupakan pilihan yang lebih aman. Dalam budidaya pangan rumah tangga, keamanan hasil panen harus ditempatkan setara dengan produktivitas. Air tercemar, wadah kotor, atau penggunaan pestisida tanpa aturan dapat mengurangi manfaat kesehatan yang seharusnya diperoleh dari sayuran segar.
Pilihan lain yang cukup sesuai untuk kawasan padat adalah hidroponik sederhana. Sistem sumbu dari botol bekas, kain flanel, net pot, dan larutan nutrisi dapat digunakan untuk menanam pakcoy, selada, kangkung, atau sawi. Keunggulannya terletak pada penggunaan ruang yang ringkas dan kebutuhan media tanah yang lebih sedikit. Namun, hidroponik bukan sistem yang bebas perawatan. Kita tetap perlu memantau volume air, kebersihan wadah, paparan cahaya, dan kondisi akar. Jika larutan nutrisi terlalu pekat atau air terlalu lama tidak diganti, tanaman dapat mengalami gangguan pertumbuhan. Karena itu, sistem paling baik bukan yang paling modern, melainkan yang sanggup dirawat secara konsisten oleh pemiliknya.
Kolaborasi Antar Warga Bertetangga
Di tingkat lingkungan, urban farming akan lebih kuat bila dibangun sebagai kegiatan bersama. Banyak gang di Mataram, Bima, maupun kawasan permukiman lain di NTB memiliki pola hunian berdekatan. Karakter ini sering dianggap sebagai masalah karena membuat ruang terbuka semakin sempit. Padahal, kedekatan antar rumah dapat menjadi modal sosial. Warga dapat membagi jenis tanaman, jadwal penyiraman, alat berkebun, bibit, serta hasil panen. Satu rumah dapat menanam cabai, rumah lain memelihara sayuran daun, sementara rumah lainnya lagi mengolah kompos dari sampah organik. Kebun gang tidak harus luas untuk memberi manfaat; yang penting ialah ada pembagian peran dan aturan perawatan yang disepakati.
Pengelolaan sampah organik juga dapat menyambungkan urban farming dengan persoalan lingkungan perkotaan. Kulit buah, sisa sayuran, daun kering, dan ampas dapur dapat diolah menjadi kompos apabila dipilah dengan benar. Kompos menambah bahan organik pada media tanam, membantu memperbaiki struktur tanah, serta mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia dalam skala kecil. Namun, pengomposan harus dilakukan secara tertib. Sampah berminyak, sisa daging, tulang, dan bahan yang berpotensi menimbulkan bau sebaiknya tidak dicampur dalam komposter sederhana di gang padat. Tujuannya bukan sekadar mengurangi sampah, tetapi membangun siklus yang bersih, tidak mengganggu tetangga, dan benar-benar bermanfaat bagi kebun warga.
Secara ekonomi, urban farming tidak perlu dijanjikan sebagai jalan cepat menuju pendapatan besar. Manfaat yang lebih realistis adalah penghematan kecil tetapi berulang, diversifikasi konsumsi, dan perlindungan terbatas ketika harga pangan tertentu melonjak. NTB masih menghadapi tantangan alih fungsi lahan, dampak iklim, tingginya konsumsi beras, serta keterbatasan sistem distribusi dan penyimpanan pangan. Karena itu, diversifikasi pangan dan penguatan produksi rumah tangga dapat menjadi bagian dari strategi yang lebih luas, bukan pengganti produksi pertanian skala besar.
Urban farming juga dapat menjadi sarana pendidikan pangan bagi keluarga. Anak-anak yang melihat cabai tumbuh dari biji, mengetahui mengapa tanaman layu, atau ikut memanen kangkung akan lebih mudah memahami bahwa pangan bukan sekadar barang yang tersedia di rak toko. Ada air, tanah, cuaca, tenaga, pengetahuan, dan waktu di balik sepiring sayur. Pemahaman ini penting di tengah kehidupan kota yang sering memisahkan masyarakat dari proses produksi pangan. Kebun kecil di rumah dapat menjadi ruang belajar tentang tanggung jawab lingkungan sekaligus kebiasaan makan yang lebih beragam.
Gang sempit di NTB tidak harus menjadi simbol keterbatasan. Dengan pilihan komoditas yang tepat, penggunaan air yang bijak, pengelolaan sampah organik yang tertib, dan kerja sama warga, ruang kecil dapat berubah menjadi sumber pangan segar yang nyata. Urban farming memang tidak akan menggantikan sawah, kebun, atau pasar tradisional. Namun, ia dapat memperkuat lapisan paling dekat dalam sistem ketahanan pangan: rumah tangga dan komunitas.
Pada akhirnya, ketahanan pangan tidak selalu lahir dari lahan yang luas. Di Nusa Tenggara Barat, ia juga dapat tumbuh dari polybag cabai di depan rumah, rak kangkung di dinding gang, atau kebun kecil yang dirawat bersama tetangga. Di tengah musim yang berubah, ruang kota yang makin padat, dan harga pangan yang tidak selalu dapat diprediksi, menanam sebagian kebutuhan sendiri adalah bentuk kesiapsiagaan yang sederhana, masuk akal, dan dapat dilakukan mulai dari hari ini.



