Banjir yang Mengkhianati Pesisir: Potensi 17 Ton Sampah Harian Mengepung Teluk Bima


Musim hujan datang. Kota kita tidak hanya mendapat guyuran air dari langit. Guyuran hujan yang umumnya turun dengan kecepatan 20-40 km per jam itu, tidak hanya sesimpel dia jatuh lalu nyerap ke tanah. Idealnya iya, air yang turun harusnya menjadi teman “bercumbu” yang indah bagi lahan-lahan hijau yang membentang luas. Namun kisah romantisme itu kini sudah berubah. Tanah tidak mampu lagi menahan derasnya limpahan “rasa cinta” dari hujan. Hujan harus direlakan pergi sejauh mungkin menemukan jodohnya yang lain di bawah sana. Laut. Itu yang menjadi tujuan emergency-nya.

Seperti yang kita tahu, air dalam kapasitas besar tidak sendiri. Mereka membawa berbagai material yang dari hulu, hasil dari “usaha” manusia yang cuek. Laut akhirnya menerima banyak sampah dan limbah dari rumah tangga. Bentuknya beragam; plastik yang sudah membusuk, jerami pertanian, dan masih banyak lagi material bekas lainnya yang bergerak dari darat menuju ke teluk. Saat banjir terjadi, coba perhatikan, apakah dia hanya dalam rupa air bah berwarna cokelat pekat? Tentu tidak. Sampah yang kita dan keluarga kita buang akan selalu mencari jalan untuk kembali ke laut. Kasihan Teluk Bima, harus menerima apa yang tidak pernah berhasil kita tangani di daratan, setiap tahun.

Fakta dalam Kilasan Bencana

Data terakhir yang saya sempat baca, tahun 2023 Kota Bima menghasilkan sampah sekitar 80,68 ton setiap hari. Kecuali sudah ada perubahan metode yang signifikan di dua tahun terakhir. Jika jumlah ini dihitung dalam satu tahun kalender, maka jumlahnya menjadi sekitar 29.448 ton. Sayangnya, hanya sekitar 78 persen dari jumlah sampah tersebut yang berhasil ditangani dengan metode konvensional; yaitu kumpul, angkut, buang (KAB) ke Tempat Pembuangan Akhir. Sisanya, yang mencapai lebih dari 17 ribu ton sampah per tahun, masih tetap berada di lingkungan, tidak dikelola dengan baik. Untuk pengurangan sampah melalui program inovatif seperti Bank Sampah, angkanya jauh lebih menyedihkan: hanya sekitar 4,48 persen dari total produksi sampah yang berhasil dikurangi, jauh di bawah target 25 persen yang ditetapkan dalam Program NTB Zero Waste (DetikNTB, 2024). Kesenjangan angka inilah yang digunakan oleh air sungai dan banjir sebagai “proses pembersihan alami” kota dari sampah-sampah yang masih berputar di lingkungan kita.  Mungkin jika air bisa berbicara, mereka akan mengatakan bahwa itu sebagai mekanisme natural sampah untuk menemukan jalurnya meninggalkan kota dan mencemari kawasan pesisir.

Banjir besar di Kota Bima di akhir tahun 2023 dan 2024 misalnya, memperlihatkan sekali bagaimana alur sampah dari daratan yang berakhir di tepi laut. Hujan lebat dan angin kencang yang menghantam sepanjang aliran sungai Lampe-Padolo, Nungga-Sallo, dan Kendo-Melayu menyapu bersih semua tumpukan sampah di pinggir sungai dan saluran air. Ratusan ton sampah, seperti sampah dari rumah tangga, plastik, dan jerami sisa panen, terbawa dalam satu gerakan alam yang kuat menuju muara di Pantai Ule, Kolo, Amahami, dan Lawata (Mongabay, 2022). Jadi, apa yang kita lihat bersarang di pohon-pohon bakau yang malang, yang bergerak terombang-ambing di lokasi menjadi destinasi andalan; menunjukkan pola musiman yang tersistem: setiap datang hujan lebat, laut menerima ribuan ton sampah tambahan.

Dampak Langsung ke Sektor Ekonomi

Kita tentu belum lupa dengan pencemaran Teluk Bima pada April 2022. Fakta itu memberikan gambaran dampak lingkungan yang terjadi ketika nutrisi berlebih bercampur dengan sampah organik. Fitoplankton jenis diatom berkembang biak dengan pesat, menciptakan lapisan coklat seperti jelly yang menutupi permukaan laut. Para ahli dari Institut Pertanian Bogor saat itu menemukan konsentrasi unsur hara (nitrogen, fosfor, dan silikat) yang sangat tinggi di Teluk Bima, sehingga memicu pertumbuhan alga yang eksplosif, dengan perkiraan kelimpahan mencapai 10 hingga 100 milyar sel per liter (IDNTimes NTB, 2022). Ketika fitoplankton ini mati, mereka menggunakan oksigen yang ada di air dalam jumlah yang banyak. Hal ini menyebabkan zona mati terbentuk, sehingga ikan dan biota laut lainnya tidak dapat hidup di sana. Akhirnya, banyak ikan ditemukan mengapung di permukaan air. Bukan karena mereka keracunan, tetapi karena mereka kekurangan oksigen dan merasa sesak napas. Teluk Bima memiliki bentuk geografis yang setengah tertutup, sehingga lebih mudah terkena dampak dari fenomena seperti ini dibandingkan dengan perairan yang terbuka. Penelitian di seluruh dunia menunjukkan bahwa sekitar 76 persen kasus algae blooming terjadi di laut yang semi-tertutup seperti Teluk Bima.

Masyarakat nelayan di sekitar Teluk Bima pasti sangat merasakan dampak ekonomi akibat fenomena lingkungan ini. Hal ini sekaligus menjawab betapa aspek lingkungan bisa sangat tragis bagi aspek ekonomi. Sampah plastik yang menempel di jaring ikan membuat alat rusak. Mereka harus menghabiskan waktu lama untuk membersihkannya. Bisa tiga hari penuh untuk membersihkan sampah plastik dari satu jaring, padahal biasanya mereka hanya butuh dua atau tiga jam untuk melakukan panen. Jika jaring sudah terlalu rusak, nelayan harus membeli jaring baru yang harganya tidak murah. Ini merupakan beban yang sangat berat bagi nelayan tradisional yang pendapatannya tidak seberapa. Hasil tangkapan ikan bisa menurun drastis, terutama saat musim hujan, karena volume sampah meningkat signifikan. Para nelayan harus berlayar lebih jauh dari pantai untuk mencari ikan, sehingga mereka meninggalkan zona pesisir yang dulu sangat subur dan produktif (Hidayatullah dkk, 2025). Terumbu karang pun, yang dulu merupakan tempat tinggal utama bagi banyak spesies ikan, sudah rusak lebih dari 50 persen.

Langkah yang Telah Ditempuh

Pemerintah Kota Bima tidak tinggal diam. Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2018 tentang Pengelolaan Sampah dan diikuti dengan Peraturan Pelaksanaan Nomor 28 Tahun 2019 menciptakan kerangka regulasi yang cukup komprehensif untuk mengelola sampah, mulai dari sumber sampai tempat pembuangan akhir. Pemerintah Kota Bima juga telah membuka Bank Sampah Induk pada Februari 2024 dengan bantuan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Upaya lagi untuk meningkatkan efisiensi pengurangan sampah di Kota Bima.

Pada Januari 2026, ada kegiatan beach cleaning activity juga di Pantai Lawata. Kegiatan ini melibatkan delegasi mahasiswa dari tujuh negara, inisiasi dari STKIP Taman Siswa dan Universitas Muhammadiyah Mataram (UMMAT). Sedangkan instansi kota yang terlibat antara lain Satpol PP, DLH, Damkar, Dinsos, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dispar, dan BPBD. Kegiatan ini menunjukkan bahwa krisis sampah adalah tanggung jawab global (Taufiqurahman dkk, 2024). Kita semua harus bekerja sama untuk mengatasi masalah sampah. Namun semua upaya ini tidak cukup cepat dibandingkan dengan laju produksi sampah dan kontaminasi yang terus berlanjut. Masih banyak hambatan yang menghalangi kita untuk mengurangi sampah lebih banyak, seperti keterbatasan anggaran, kurangnya kesadaran, kesediaan sumber daya manusia, dan fasilitas infrastruktur yang tidak memadai. Fakta ini yang membuat kita sulit untuk melebihi angka pengurangan sampah sebesar 4 persen yang pernah dicapai.

Teluk Bima menanti respons yang lebih radikal dan berkelanjutan. Salah satu yang bisa dijadikan studi kasus teknologi murah adalah pemasangan barrier penangkap sampah seperti yang dilakukan anak-anak muda militan macam Pandawara Group di saluran-saluran primer kita. Laut tidak bisa hanya dibersihkan saat hujan turun atau ketika krisis memuncak. Laut membutuhkan sistem pengelolaan sampah yang fundamental, perubahan perilaku konsumsi di tingkat urban, investasi dalam teknologi pengolahan, dan kesadaran kolektif bahwa laut bukan tempat pembuangan gratis. Karena ketika laut membalas, dia tidak tebang pilih korban. Laut memukul nelayan, ikan, dan mangrove dengan kekuatan yang sama. Masyarakat dan pemerintah kota memiliki waktu yang relatif terbatas untuk membalikkan kondisi ini.

Penulis

Villesian
Father of Two Beloved Son|| Bureaucrat|| Urban and Regional Planner (Master Candidate)|| Content Writer|| Content Creator|| Reading Holic|| Obsesive, Visioner, and Melankolis Man||

Posting Komentar